SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU
SMA PL St. Louis Sedayu - Jl. Wates Km 12 Sedayu Yogyakarta  Telp. (0274) 4546765 Fax. (0274) 4546766
Rabu, 04 Agustus 2021  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 




11.07.2020 13:56:39 286x dibaca.
BERITA
WEBINAR TENTANG PJJ DI SMA PANGUDI LUHUR St. LOUIS IX SEDAYU: PENIAIAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH DI ERA NEW NORMAL

Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis internet, sekolah harus memiliki peta tentang situasi siswa, yaitu berapa banyak siswa yang memiliki akses internet, dan berapa yang tidak. Sehingga sekolah bisa mencarikan solusi untuk sekolah yang tidak memiliki akses. Misalnya dengan memanfaatkan fasilitas sekolah, tetapi tetap harus sesuai protocol kesehatan. Demikian kata Suwito, SPd.,Mpd., pengawas SMA di Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Bantul, Rabu (8/7) di SMA PangudiLuhur “St. Louis IX” Sedayu, Bantul, dalam webinar bertema “Penilaian Pembelajaran Jarak jauh di Era New Normal.” Pembicara yang lain adalah Hendra Kurniawan, MPd., dosen Pendidikan SeJarah USD dan penulis buku “Literasi Menuju Society 5.0.”

Memberikan bantuan penggunaan fasilitas sekolah untuk PJJ siswa yang tidak mampu merupakan bentuk kepedulian terhadap siswa yang kurang   beruntung. Dalam edaran Kementrian Pendidikan disebutkan bahwa sebagian dana BOS bisa untuk membantu siswa yang kesulitan PJJ. Syaratnya adalah harus memiliki HP terlebih dahulu. Lantas bagaimana jika siswa memiliki HP namun HP tersebut tidak berkamera?Suwitomengatakan bahwa guru harus memetakan KD (Kompetensi Dasar) mana yang memungkinkan PJJ, dan KD mana yang tak memungkinkan.

Normal baru, didefinisikan oleh Hendra Kurniawan sebagai menggeser dari yang tidak biasa menjadi biasa, sesuatu baru yang harus dilaksanakan. Pada masal alu, E-learning hanya sebatas kajian dan pelatihan. Dulu, PJJ sebenarnya sudah pernah dilakukan, yaitu pada Universitas Terbuka. Karena pada masa itu media komunikasi masih sederhana, maka materi dikirim via jaringan pos. Sekarang era sudah berubah dengan hadirnya internet. Sekolah sudah memiliki E-learning management system dengan platform zoom dan google meet. Bagi Hendra Kurniawan, ini merupakan new normal yang harus dihadapi.

Hendra Kurniawan menyebut ada beberapa ciri guru professional. Dua yang pertama adalah penguasaan pedagogi dan kontennya. Yang berikutnya adalah penguasaan teknologi, yang saat ini dibutuhkan. Pada masa lalu, penguasaan teknologi yang terbatas tidak menjadi masalah. Namun sekarang penguasaan teknologi merupakan keharusan, karena ada beberapa keuntungan. Yang pertama adalah dokumentasi digital yang bisa diakses kapan pun dan di mana pun. Kedua, bisa lintas ruang dan waktu. Poin kedua ini mensyaratkan kedekatan hati dalam bentuk sapaan. Karena pembelajaran tak hanya bersifat transaksional, yaitu member tugas semata. Ketiga, sumber belajar yang banyak yaitu di dalam jaringan. Sehingga guru saat ini bukan hanya satu-satunya sumber belajar. Dan yang keempat, adalah kesempatan untuk merdeka belajar.

Suwito memandang pandemi covid yang terjadi sejak Maret 2020 memaksa guru untuk memanfaatkan teknologi untuk melakukan aktivitas mengajar. Sehingga terjadi percepatan pemanfaatan pembelajaran berbasis internet, berbasis data. Keberadaan HP yang sebagian besar sudah dimiliki siswa dimanfaatkan untuk pembelajaran dan penilaian. Tentang keterbatasan-keterbatasan sarana penunjang yang dimiliki siswa, bagi Suwito merupakan tantangan untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Disebut bermakna karena menyesuaikan dengan konteks lingkungan setempat. Yang penting pembelajaran harus melatih ketrampilan abad 21.

Dalam halpenilaian, Suwito mengatakan bisa menggunakan google form. Penilaian bisa berujud penilaian antar siswa dan ditambah penilaian oleh guru, sehingga akan menjadi penilaian komprehensif. Ada beberapa jenis penilaian antara lain penilaian pengetahuan, penilaian ketrampilan, penilaian produk dan penilaian portofolio. Penilaian-penilaian ini tetap bisa dilakukan melalui media komunikasi selama memenuhi prosedur yang sudah ditentukan. Untuk penilaian proyek, bisa berbasis produk, bisa juga tidak. Penilaian proyek yang berbasis produk misalnya merancang alat untukmelihat obyek pada jarak jauh. Penialaian proyek yang tidak berbasis produk misalnya kajian sejarah. Hendra Kurniawan menambahkan, penilaian sikap yang terbaik adalah dengan tatap muka, dan sulit dilakukan dalam PJJ. Namun bisa diatasi dengan meminta siswa membuat jurnal sikap, yaitu pandangan-pandangan siswa dengan panduan pertanyaan-pertanyaan pemantik

 

Oleh : Wawan Setiadi

Editor by : Mesakh Gita Wijaya








^:^ : IP 35.175.191.36 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU
 © 2021  http://smaplsedayu.sch.id/