TES NARKOBA BISA POSITIF TANPA HARUS MENJADI PENGGUNA

Yang bisa terkena pidana narkoba bukan hanya pengedar narkoba dan pengguna narkoba saja. Mereka yang hasil tesnya positif narkoba juga bisa terseret dengan kasus narkoba. Meski demikian, hasil tes semata tak cukup untuk menjerat narkoba, jika hasil assesmen menunjukkan bahwa ia bukan pengguna narkoba. Demikian diungkapkan oleh Tsaniya Azmi, Kasi P2M BNNK Karimun, Selasa (17/10) di aula SMA Pangudi Luhur “St. Louis IX” Sedayu, Bantul. Kegiatan “Sosialisasi Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba bagi SMA/SMK se Kevikepan Yogya Barat, yang diikuti oleh perwakilan pelajar Katholik dari sekolah sekolah di kawasan Kevikepan Yogya Barat.

 

Menurut Tsaniya Azmi, hasil tes seseorang bisa positif narkoba meski ia bukan pengguna narkoba. Narkoba bisa masuk ke dalam tubuh melalui udara, karena asap atau serbuk narkoba yang terbang di udara terhirup oleh pernafasan. Oleh karena itu diperlukan assesmen atau penyelidikan tanya jawab untuk menentukan bagaimana zat tersebut bisa masuk ke dalam tubuh. Narkoba meliputi narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain yang memiliki dampak negative jika digunakan. Narkotika sendiri meliputi ganja, heroin/putaw dan shabu. Ganja berbentuk daun seperti daun singkong dengan sirip daun bergeligi. Heroin/putau berbentuk bubuk berwarna coklat dan biasanya berasa pahit. Sedang shabu berbentuk kristal seperti gula batu.

 

Tsania Azmi menyebutkan bahwa saat ini Indonesian sedang dalam masa darurat narkoba, karena setiap hari 30 hingga 50 orang mati sebagai dampak langsung atau tidak langsung penyalah gunaan narkoba. DIY sendiri berada pada peringkat ke lima tertinggi di Indonesia. Jika dilihat dari profesinya, kelompok pengguna narkoba yang tertinggi adalah pekerja dan pelajar. Tsania Azmi menekankan bahwa dampak penggunaan narkoba bisa bersifat permanen. Dampak negative ini akan mempengaruhi kerja otak, mempengaruhi perilaku dan mempengaruhi fisik penggunanya. Dampak ini tetap akan terlihat meski pengguna hanya memakai narkoba dalam kurun waktu enam bulan.

 

Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr, ketua komisi KPKC kevikepan Yogya Barat, menyatakan bahwa penyalah gunaan narkoba, jika tidak ditangani dengan baik, bisa menjadi ancaman serius terhadap pribadi mau pun masyarakat. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan siswa Katholik di Kevikepan Yogya Barat tidak menggunakannya. Br. Yustinus Wahyu Bintarto, FIC, Kepala SMA Pangudi Luhur “St. Louis IX” Sedayu, menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini digelar oleh Komisi Keadilan dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan Yogya Barat.

Share this Post