SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU
SMA PL St. Louis Sedayu - Jl. Wates Km 12 Sedayu Yogyakarta  Telp. 0274-7494179
Senin, 21 Mei 2012  - 5 User Online  
PPDB ONLINEBERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


22.11.2010 15:32:03 378x dibaca.
ARTIKEL
MENJADI TELADAN

MENJADI TELADAN

Oleh: Ag. Budi Susanto

Sebab Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebuah peribahasa yang tidak asing di telinga kita. Peribahasa ini memiliki makna yang sangat mendalam. Makna peribahasa ini kurang lebih bahwa tabiat seorang anak tidak akan jauh dari orang tuanya. Atau sifat seorang anak tidak akan jauh dari orang tuanya. Karena mereka lahir dan hidup bersama orang tuanya.

Pertanyaan yang cukup menarik bisa kita lontarkan, apakah hal ini terjadi bagi setiap anak? Terlepas dari benar atau tidaknya peribahasa tersebut hendaklah orang tua sungguh-sungguh memperhatikan anaknya dalam perkembangan jiwanya. Seorang anak harus dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Sebab perbuatan yang kurang baik sangat mudah ditiru oleh sang anak. Sebagai orang tua yang bijaksana hendaklah selalu berusaha bersikap yang selalu baik di hadapan sang anak.

Ketika terjadi sedikit masalah dengan pasangan maupun orang lain hendaknya jangan sampai ditunjukkan kepada anak. Hal ini kalau sampai terjadi akan mempengaruhi perkembangan jiwanya. Anak akan merasa kurang nyaman dalam keluarga karena perbuatan orang tuanya sendiri. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik hendaknya jangan dilakukan oleh orang tua ketika menginginkan sang anak tidak melakukannya. Misalnya melarang anak agar tidak merokok maka seorang ayah yang bijaksana jangan merokok juga. Merokok ini mungkin hanya sebagai salah satu contoh yang sederhana. Contoh yang lain misalnya berkata-kata yang kasar dihadapan anak. Seorang anak akan mudah sekali meniru kata-kata yang sering muncul dari mulut orang tuanya.

Orang tua menjadi sosok teladan yang terbaik bagi anak-anaknya. Apabila orang tua sendiri tidak bisa menyadari pentingnya diri sebagai teladan anak-anaknya maka perbuatan-perbuatan yang kurang baik masih sering dilakukan. Namun kalau mereka sungguh menyadari hal tersebut pastilah akan berusaha dengan sungguh-sungguh berbuat yang terbaik demi anak-anaknya. Guru yang menyadari akan profesinya tentu selalu memahami ungkapan klasik yang sampai sekarang harus tetap melekat pada diri guru, Guru Digugu lan Ditiru.

Ketika di sekolah orang yang menjadi panutan para siswa adalah guru. Kebiasaan-kebiasaan seorang guru akan menjadi sorotan para siswanya. Bahkan akan ditiru oleh para siswanya maka seorang guru hendaknya harus selalu bertingkah laku yang terbaik. Misalnya ada larangan merokok di lingkungan sekolah, guru yang bijaksana tentu juga tidak akan merokok di lingkungan sekolah. Keteladanan seorang guru tentunya tidak hanya sebatas di sekolah saja. Ia harus mampu menempatkan diri dimanapun tempat. Ketika di masyarakat seorang guru juga harus selalu bertingkah laku yang terbaik. Ia akan menjadi sorotan bagi masyarakat.

Dalam masyarakat mauapun Gereja guru akan dipandang memiliki talenta yang lebih dengan profesi yang lain. Misalnya mereka dianggap sebagai tokoh masyarakat maupun gereja yang mumpuni. Berbagai jabatan sering disandang oleh para guru, di Masyarakat banyak yang menjadi ketua RT atau RW dan lain-lain. Di lingkungan Gereja menjadi Prodiakon, ketua lingkungan, ketua wilayah, dewan paroki dan lain-lain.

Seorang anak atau murid merupakan titipan Tuhan yang harus selalu dijaga kemurniannya. Ia menjadi harapan kita untuk memajukan gereja maupun negeri ini. Apabila mereka kita rusak dengan perbuatan kita sendiri baik disadari maupun tidak disadari bagaimana masa depan mereka? Apakah mereka nantinya mampu bersaing dengan yang orang lain? Ketika kita selalu memberikan hal yang terbaik baginya berarti kita sudah menabung untuk masa depannya.

Semoga!!!!!!!!!








^:^ : IP 38.107.179.244 : 3 ms   
SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU
 © 2012  http://smaplsedayu.sch.id/